Oleh:
Dr. Sri Maulida
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat
Ketika Rupiah
melemah, masyarakat biasanya langsung melihat angka kurs: hari ini dolar
berapa? Naik atau turun? Namun, di balik pergerakan kurs tersebut, ada banyak
kebijakan yang dilakukan Bank Indonesia untuk menjaga agar Rupiah tidak
bergerak terlalu tajam.
Masalahnya,
istilah kebijakan nilai tukar sering terdengar rumit. Ada istilah intervensi
valas, spot, NDF, DNDF, SRBI, SBN, repo, FX swap, hingga pembelian SBN di pasar
sekunder. Bagi masyarakat umum, istilah-istilah ini terdengar teknis. Padahal,
maknanya dapat dijelaskan dengan bahasa sederhana.
Secara umum,
ketika Rupiah tertekan, Bank Indonesia menjalankan tiga strategi besar.
Pertama, memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah. Kedua, menjaga daya tarik
aset keuangan dalam negeri. Ketiga, memastikan likuiditas Rupiah tetap cukup
untuk mendukung kegiatan ekonomi.
Strategi pertama
adalah menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Bahasa sederhananya, BI berupaya
menjaga agar permintaan dan pasokan dolar di pasar tetap seimbang. Jika
permintaan dolar terlalu besar, sementara pasokannya terbatas, Rupiah bisa
melemah lebih tajam. Karena itu, BI masuk ke pasar valas secara terukur.
Dalam strategi
ini, ada beberapa istilah yang sering muncul. Transaksi spot berarti transaksi
jual beli valas yang dilakukan secara langsung dengan penyelesaian dalam waktu
dekat. Misalnya, bank atau pelaku pasar membutuhkan dolar sekarang, maka
transaksi spot digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Ada juga istilah
NDF atau Non-Deliverable Forward. Ini adalah transaksi valas berjangka
yang terjadi di pasar luar negeri. NDF sering mencerminkan ekspektasi pelaku
pasar global terhadap nilai Rupiah di masa depan. Jika pasar luar negeri
memperkirakan Rupiah melemah, tekanan itu dapat memengaruhi sentimen di pasar
domestik.
Sementara itu,
DNDF atau Domestic Non-Deliverable Forward adalah transaksi valas
berjangka di dalam negeri. Instrumen ini dapat digunakan untuk mengelola risiko
perubahan kurs. Misalnya, perusahaan harus membayar impor dalam dolar tiga
bulan lagi. Agar tidak panik jika dolar naik, perusahaan dapat menggunakan DNDF
untuk mengunci kurs sejak awal. Dengan cara ini, kebutuhan dolar dapat
direncanakan lebih baik.
Jadi, ketika BI
disebut melakukan stabilisasi melalui spot, NDF, dan DNDF, artinya BI sedang
menjaga agar pasar valas tetap terkendali, baik dari sisi kebutuhan dolar hari
ini maupun ekspektasi kurs ke depan.
Strategi kedua
adalah menjaga daya tarik aset domestik. Maksudnya, BI berupaya agar instrumen
keuangan berbasis Rupiah tetap menarik bagi investor. Hal ini penting karena
saat suku bunga dan imbal hasil aset dolar Amerika Serikat tinggi, investor
global cenderung memilih aset yang dianggap aman, terutama dolar AS dan surat
utang Amerika Serikat. Jika dana keluar dari negara berkembang, mata uang
seperti Rupiah ikut tertekan.
Dalam konteks
ini, salah satu instrumen yang penting adalah SRBI atau Sekuritas Rupiah Bank
Indonesia. SRBI adalah surat berharga yang diterbitkan Bank Indonesia dalam
Rupiah. Instrumen ini digunakan untuk mengelola likuiditas sekaligus menjaga
daya tarik aset Rupiah. Jika SRBI menarik, investor akan lebih berminat
menempatkan dananya di Indonesia. Masuknya dana investor dapat membantu
memperkuat pasokan valas dan menahan tekanan terhadap Rupiah.
Selain SRBI, ada
juga SBN atau Surat Berharga Negara. SBN adalah surat utang yang diterbitkan
pemerintah. Masyarakat mungkin lebih mengenalnya dalam bentuk obligasi negara
atau sukuk negara. Bagi investor, SBN menarik karena memberikan imbal hasil.
Bagi pemerintah, SBN menjadi sumber pembiayaan pembangunan. Dalam situasi
tekanan nilai tukar, pasar SBN yang stabil penting untuk menjaga kepercayaan
investor terhadap ekonomi Indonesia.
Dengan kata
lain, ketika BI dan pemerintah menjaga daya tarik SRBI dan SBN, tujuannya bukan
semata-mata menarik investor, tetapi juga menjaga agar aliran dana tidak keluar
terlalu besar dari pasar keuangan domestik. Jika kepercayaan investor tetap
terjaga, tekanan terhadap Rupiah dapat diredam.
Strategi ketiga
adalah memperkuat operasi moneter. Istilah ini terdengar teknis, tetapi
maknanya sederhana: BI mengatur agar jumlah uang dan likuiditas di pasar tetap
cukup. Jangan sampai Rupiah dijaga terlalu ketat, tetapi dunia usaha kekurangan
likuiditas. Sebaliknya, jangan pula likuiditas terlalu longgar hingga menambah
tekanan pada inflasi dan nilai tukar.
Dalam operasi
moneter, ada istilah repo. Repo atau repurchase agreement adalah transaksi
ketika bank mendapatkan dana dengan menjaminkan surat berharga. Bahasa
mudahnya, repo membantu perbankan memperoleh likuiditas Rupiah ketika
dibutuhkan. Dengan demikian, kegiatan pembiayaan dan transaksi ekonomi tetap
berjalan.
Ada juga FX swap
BI. FX swap adalah transaksi pertukaran valas dan Rupiah antara Bank
Indonesia dan perbankan untuk jangka waktu tertentu. Instrumen ini membantu
mengelola kebutuhan valas dan Rupiah di pasar keuangan. Jika kebutuhan valas
meningkat, FX swap dapat membantu menjaga agar pasar tetap stabil.
Selain itu, BI
juga dapat membeli SBN di pasar sekunder. Pasar sekunder adalah tempat jual
beli SBN yang sudah diterbitkan sebelumnya. Pembelian SBN oleh BI dilakukan
secara terukur untuk menjaga stabilitas pasar obligasi dan memastikan
likuiditas Rupiah tetap memadai.
Dari sini dapat
dipahami bahwa kebijakan BI dalam menjaga Rupiah tidak hanya berupa satu
langkah. BI tidak hanya “menahan kurs” atau “menjual dolar”. Kebijakan nilai
tukar dilakukan secara berlapis yaitu menjaga pasar valas, menarik aliran modal
masuk, menjaga pasar SBN, dan memastikan likuiditas tetap cukup.
Bagi masyarakat,
memahami istilah-istilah ini penting agar tidak mudah panik ketika Rupiah
melemah. Pelemahan Rupiah tidak selalu berarti ekonomi sedang buruk. Sering
kali, tekanan Rupiah muncul karena faktor global, seperti penguatan dolar AS,
tingginya imbal hasil surat utang Amerika, kenaikan harga minyak, atau
ketidakpastian geopolitik.
Yang perlu
dilihat adalah bagaimana respons kebijakannya. Selama BI menjaga stabilitas
secara hati-hati, pemerintah menjaga kredibilitas fiskal, dan sektor riil tetap
produktif, maka tekanan terhadap Rupiah dapat dikelola dengan lebih baik.

