GpdiGSz7Gpz0GUY7BSd5TSdoTd==

Ruang Renung di Balik Tembok: Tausiah Jadi Titik Balik Warga Binaan Lapas Kotabaru


Wartanesia — Suasana berbeda terasa di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kotabaru pada Senin (30/3). Di tengah rutinitas pembinaan, kegiatan tausiah yang disampaikan oleh Ustadz Rahmatullah dari Kementerian Agama Kotabaru menghadirkan ruang hening yang mengajak Warga Binaan untuk sejenak menengok ke dalam diri mereka sendiri.

Dalam penyampaiannya, Ustadz Rahmatullah tidak hanya berbicara tentang ibadah secara formal, tetapi juga menyentuh sisi refleksi kehidupan—tentang penyesalan, penerimaan, dan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tausiah ini menjadi lebih dari sekadar ceramah, melainkan ruang dialog batin yang dirasakan langsung oleh para Warga Binaan.

Salah satu Warga Binaan berinisial R mengungkapkan bahwa momen tersebut memberikan sudut pandang baru dalam menjalani masa pembinaan. “Saya merasa seperti diingatkan kembali tentang tujuan hidup. Di sini saya belajar menerima kesalahan dan mencoba memperbaiki diri. Tausiah tadi bikin saya lebih tenang dan punya harapan untuk berubah,” ujarnya dengan penuh refleksi.

Kepala Lapas Kotabaru, Doni Handriansyah, menyampaikan bahwa kegiatan keagamaan seperti tausiah memiliki peran penting dalam proses pembinaan, terutama dalam membangun kesadaran dan perubahan dari dalam diri. “Kami tidak hanya fokus pada pembinaan keterampilan, tetapi juga pembinaan mental dan spiritual. Harapannya, setiap Warga Binaan memiliki kesempatan yang sama untuk memperbaiki diri dan kembali ke masyarakat dengan lebih baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kalapas menambahkan bahwa pendekatan humanis menjadi kunci dalam menciptakan proses pembinaan yang bermakna. Menurutnya, perubahan sejati lahir dari kesadaran, bukan sekadar aturan. Oleh karena itu, kegiatan seperti tausiah akan terus dihadirkan sebagai bagian dari upaya membangun harapan baru di dalam Lapas.

Melalui kegiatan ini, Lapas Kotabaru kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada aspek fisik, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan. Di balik tembok pembatas, tumbuh cerita-cerita kecil tentang harapan, penyesalan, dan tekad untuk memulai kembali.

Type above and press Enter to search.